Ceritanya, ada sebuah perusahaan sisir yang akan merekrut Direktur Penjualan. Ada 100 orang yang melamar. Mereka diberi tugas menjual sisir kepada biksu. Ternyata hanya 3 orang yang siap menerima tantangan ini. Seminggu kemudian, ketiganya memberikan laporan.

“Berapa buah sisir yang Anda jual?” tanya si pewawancara.

“Cuma satu buah!” jawab si A singkat.

“Bagaimana cara Anda menjualnya?” tanya si pewawancara.

“Semua biksu marah-marah ketika saya menawarkan sisir kepada mereka. Tapi, ada seorang biksu muda yang ketombean, dia membeli sebuah sisir untuk menggaruk kepalanya”, jawab si A sambil tersenyum.

“Bagaimana dengan Anda?” tanya si pewawancara kepada si B.

“Saya berhasil menjual 10 buah, pak! Saya melihat banyak peziarah di vihara yang rambutnya acak-acakan karena angin kencang. Lalu saya usulkan kepada biksu pengawas agar membeli sisir untuk para peziarah sebelum mereka menghormati patung Budha. Ide saya diterima dan dia membeli 10 buah sisir”, jawab si B juga tersenyum.

“Bagaimana dengan Anda?” tanya si pewawancara kepada si C.

“Saya berhasil menjual 1000 buah pak!” jawabnya mantap.

“Wouw… Bagaimana caranya?” ketiganya berseru serempak.

“Saya mengamati sebuah vihara terkenal. Setiap hari ada banyak turis ke sana. Lalu, saya mendatangi pimpinan biksu dan berkata, ‘Guru, bila semua peziarah diberikan tanda mata, mereka pasti senang dan akan memberikan sumbangan untuk vihara ini. Guru bisa memberikan sisir yang dibubuhkan tanda tangan Guru!’ Dia setuju dengan ide saya dan langsung membeli 1000 buah sisir”, jawab si C dengan nada optimis.

Pertanyaannya, bila Saudara mendapatkan tugas yang tampaknya mustahil, apa reaksi Saudaraa? Mundur? Pesimis? Langsung menolak? Studi pengalaman mengatakan sikap yang optimis menentukan 85% kesuksesan. Yang 15% adalah pengetahuan atau kepandaian. Demikian pula dengan pelayanan pekabaran Injil. Statistik menunjukkan sekitar 90% orang Kristen yang pasif, dan tidak mengabarkan Injil. Mungkin merasa pesimis, mustahil karena sulit, tidak mampu, atau kuatir akan ditolak.

Sebenarnya, yang dibutuhkan bukanlah kemampuan yang profesional, tetapi cukup hanya menceritakan pengalaman sendiri bagaimana Saudara sudah menerima keselamatan kekal itu. Tuhan Yesus berkata, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk!” (Markus 16:15). PerintahNya bersifat aktif, positif, dan hanya bercerita! Mudah bukan? Soal orang mau menerima atau tidak, itu urusan Roh Kudus.

Write a comment:

*

Your email address will not be published.