Cerita ini dari Afrika. Konon, katanya para pemburu monyet di sana memiliki strategi yang sangat unik dan menarik. Monyet-monyet itu harus dapat ditangkap hidup-hidup. Sebab sesuai dengan pesanannya, monyet-monyet itu akan digunakan untuk percobaan di laboratorium, atau untuk permainan sirkus. Strateginya sederhana saja. Para pemburu hanya menggunakan botol toples yang berleher panjang, dan bagian mulutnya agak sempit sesuai dengan besarnya tangan seekor monyet.

Lalu, botol-botol itu diisi dengan kacang yang diberi aroma yang wangi dan menggiurkan. Semua botol khusus yang sudah diisi dengan umpan kacang itu, ditanam di tanah dan mulut toplesnya dibiarkan terbuka. Nah, aroma kacang yang wangi itu memancing para monyet berdatangan. Dengan tidak ragu-ragu mereka memasukkan tangan mereka ke dalam botol untuk menggenggam kacang-kacang yang ada di dalamnya. Karena rakusnya, genggaman yang penuh itu membuat mereka terjebak. Tangan mereka tidak bisa keluarkan dari dalam botol. Mau melarikan diri bersama botol, ternyata terlalu berat tertanam di dalam tanah. Akhirnya, para pemburu itu dengan sangat mudah meringkus semua monyet yang terjebak. Tangan mereka bisa masuk, tidak bisa keluar. Sebab terjebak dengan nafsu keserakahan. 

Mungkin kita tertawa membaca tingkah bodoh dari monyet-monyet ini. Tetapi tanpa sadar mungkin kita sedang menertawakan diri sendiri. Permisi tanya, adalah keinginan-keinginan tertentu yang begitu menguasai diri Saudara selama ini? Secara sadar atau tidak, Saudara sedang terjebak dengan keserakahan, kekuatiran, ketakutan, iri hati, kemarahan, stress berat, frustrasi, depresi, atau nafsu kedagingan lainnya?

Alkitab mengingatkan kita untuk tidak usah kuatir tentang apa pun juga; tetapi belajar berserah penuh kepada Allah Bapa. Dia berjanji pasti akan memelihara kita jauh melebihi burung di udara, bunga di padang, dan rumput di ladang. Sebab itu, belajarlah memberitahukan semua keinginan Saudara kepada Bapa melalui doa dan permohonan dengan ucapa syukur kepadaNya. (I Petrus 5:7; Matius 6:26-30; Filipi 4:6-7).

     Coba perhatikan apa yang dikatakan Tuhan Yesus Kristus, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombaNya.” (Yohanes 10:10-11). Bila Kristus sudah rela memberikan nyawaNya bagi kita, masakan Dia tidak akan mencukupkan segala kebutuhan kita dengan segala kelimpahanNya? Jangan pernah Saudara meragukan kasihNya, kuasaNya, kebaikanNya, dan jaminan pemeliharaanNya yang sempurna dan abadi (bdk:Roma 8:28; Filipi 1:6).

Write a comment:

*

Your email address will not be published.