Rubel Shelly dari Nashville, Tennesse, menceritakan tentang anak-anak di kelas pemahaman Alkitab tengah minggu. Delapan hari menjelang hari ‘Thanksgiving’ (Pengucapan Syukur), ibu guru yang bernama Michelle ingin menguji anak-anak pra-sekolah tentang pengertian Pengucapan Syukur. Sebab itu dia sengaja dengan bercanda menceritakan konsep yang salah supaya anak-anak bisa mengoreksinya.

“Anak-anak, minggu depan kita akan merayakan “ Thanksgiving”. Hmm…hari apa yah? Ohh …itu adalah hari ketika kita memikirkan semua barang-barang jauh lebih banyak daripada orang lain. Dan, juga kita tidah pedulu kepada orang lain, kecuali kepada diri sendiri saja”, kata bu guru Michelle sambil tersenyum sambil memandang kepada semua anak-anak.

“Bukaaan!” anak-anak mulai berteriak. “Saa—laaah, buuu!
Lalu, salah satu anak laki-laki kecil berteriak keras, “Itu bukan hari ‘Thanksgiving’, bu guru Michelle, itu adalah hari Natal!”
“Iyaa…, Iyaaa! Itu adalah hari Natal!” teriak semua anak-anak dengan suara serempak kayak paduan suara.

Saudara, cerita dalam kejadian di atas mengajarkan kita bahwa anak-anak pun sejak kecilnya sudah mengerti soal komersialisme Natal. Dosa telah menyebabkan manusia hidup dalam kepentingan dan keuntungkan diri sendiri. Alkitab mengatakan bahwa semua usaha manusia tidak mampu menyelesaikan dosanya (Roma 3:23; Efesus 2:8-9). Hanya oleh anugrah Allah, Yesus Kristus rela inkarnasi ke dunia ini untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa (Matius 1:21; Yohanes 3:16).

Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus terbalik 180 derajat dengan manusia biasa. Kristus Yesus tidak mementingkan diri sendiri, tetapi Dia “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus di pertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:6-7).

Kristus yang 100% Allah kini rela menjadi 100% manusia, demi keselamatan manusia. Sebab itu Dia sah menjadi satu-satunya Pengantara antara manusia dengan Allah (1 Timotius 2:5). Pengosongan diri Kristus seharusnya menjadi ‘semangat’ natal kita. Kerelaan menjadi hamba yang melayani dari pada menuntuk untuk dilayani. Sebab itu bagikanlah kabar natal ini kepada semua orang di sekitar saudara. Bila saudara belum mendapatkan sukacita dan damai Natal, terimalah Kristus hari ini juga!

Write a comment:

*

Your email address will not be published.