Teman saya membagikan cerita ini dari Jakarta. Katanya ada seorang Boss yang meniru gaya presiden Jokowi, yang suka ‘mblusukan’. Suatu haru si Boss tiba-tiba melakukan ‘inspeksi mendadak’ ke pabriknya untuk melihat kinerja pegawainya. Di sana dia melihat ada seorang pria muda sehat dan segar tengah bersandar di dinding dan santai-santai sambil main ‘handphone’. Sementara itu semua pegawai lain di ruangan tersebut sibuk bekerja. Si Boss segera menghampiri pria tersebut dan bertanya dengan suara setengah berteriak,” Hei, berapa penghasilanmu sebulan?”

Dengan sedikit gugup pria itu menatap si Boss dan menjawab, “Emm….dua juta pak! Emangnya kenapa pak?”
Si Boss lalu mengeluarkan dari tasnya tiga ikat uang lembaran 100 ribuan. Sambul diserahkan kepada si pria itu, dia berkata dengan nada membentak, “Ini gahi dan pesangonmu! Tiga bulan gaji, 6 juta! Cepat keluar, pergi dari sini…dan awas…Jangan balik lagi di sini!”

Dengan gemetar memegang gumpalan uang 6 juta rupiah dan setengan ketakutan, pria itu segera meninggalkan pabrik itu tanpa banyak bicara. Lalu dengan muka yang penuh wibawa si Boss mendekati pegawai lain yang sejak tadi menyaksikan adengan tersebut. “Itulah nasih pekerja yang santai-santai di pabrik saya. Saya berhentikan saat ini juga. Tidak ada tawar-menawar. Kalian semua mengerti? Tanyanya lanjut dengan suara lantang.

Suasana jadi hening. Para pegawai diam dan saling memandang. Lalu seorang pegawai menjawab dengan suara bergetar,”Dia tidak berkerja di sini pak, dia itu penjual Es Cendol yang sedang menunngu gelasnya!”

Saudara, cerita humor di atas mengajarkan kita ketika menghadapi persoalan, jangan cepat gusar, marah, dan terburu-buru mengambil sebuah kesimpulan. Sikap yang demikian seringkali membuat seseorang berbuat kesalahan. Tidak jarang akibatnya bisa fatal dan bila ingin menyesal pun sudah tidak ada gunanya lagi. Firman Tuhan berkata, “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini:setiap orang hendaklah cepat untuk mendegar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” (Yakobus 1:19-20). Sebab itu, ketika persoalan datang, mintalah kepada Tuhan hati yang sabar, sikap rendah hati, dan hikmat dari sorga. Maka, saudara akan dimampukan untuk menghadapi persoalan itu dengan baik, benar, dan bijaksana. Sebab Tuhan Yesus berjanji bahwa bersandar kepada kekuatan yang diberikan olehNya, pasti kita akan dapat menanggung dan menyelesaikan setiap perkara (bacalah: Filipi 4:13).

Write a comment:

*

Your email address will not be published.