Teman saya yang adalah orang Jawa bilang Anda boleh bangga kalau bisa berbahasa Jawa. Kenapa? Karena bahasa Jawa itu amat kaya dengan perbendaharaan kata, lebih dari bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Contohnya: kata “jatuh”. Kalau pakai bahasa Indonesia, mau jatuh ke arah mana pun, tetap dikatakan:”Jatuh”. Begitu pula pakai bahasa Inggris, Cuma pakai satu kata:”Fall”. Nah, kalau pakai bahasa Jawa:

– Jatuh ke belakang: Nggeblak.
– Jatuh dari atas: Ciblok.
– Jatuh ke depan: Nyungsep.
– Jatuh terlempar: Njungkel.
– Jatuh tersandung: Jlongop.
– Jatuh meluncur: Ndlosor.
– Jatuh dari tempat tidur: Nggelundung.
– Jatuh tertidur: Kesirep.
– Jatuh dan hilang kesadaran: Semaput.
– Jatuh tak sengaja: Kepleset.
– Jatuh terguling-guling: Kringkelan.
– Jatuh miskin: Mlarat.
– Jatuh ke dalam sumur: Kecemplung.
– Jatuh masuk sungai: Kecebur.
– Jatuh pura-pura: Ndablek, Mbujuki.
– Jatuh bangkrut: Nelongso.
– Jatuh hilang kekuasaan: Lengser.
– Jatuh dari Lantai 5: Modar.
– Jatuh meluncur tanpa ada penahannya: Mbrosot.
– Jatuh enggak bangun-bangun lagi: Matek.

Memang luar biasa hebatnya bahasa Jawa. Dari humor ini apa yang bisa kita pelajari? Pertama, bahwa minoritas itu tetap bisa menjadi yang teratas. Sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, Alkitab mencatat bahwa para nabi, rasul, dan orang-orang beriman itu adalah kaum minoritas. Namun, faktanya mereka menjadi alat di tangan Tuhan untuk menyatakan karya Tuhan yang luar biasa. Hal ini seharusnya mendorong orang Kristen di masa kini agar tidak merasa minder, pesimis, atau patah semangat untuk terus berjuang menjadi yang ‘teratas’ dalam segala aspek kehidupan, untuk menjadi kesaksian bagi kemuliaan Allah.

Kedua, walaupun minoritas itu teratas, janganlah menjadi tinggi hati atau sombong, atau merasa diri “lebih” dibandingkan dengan orang lain. Kenapa? Karena setiap manusia baik dari latar belakang apa pun, di hadapan Tuhan adalah sama. Semua manusia tanpa kecuali adalah manusia berdosa, dan membutuhkan Tuhan Yesus, satu-satunya Juru Selamat yang datang ke dunia sebagai Penebus kita (Roma 3:23; 6:23). Alkitab berkata, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil perkejaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9). Jadi, ibarat uang logam dengan dua sisi: di satu sisi tetap optimis, bersemangat, dan berjuang agar menjadi ‘teratas’, tapi di sisi lain tetap rendah hati dan hidup memuliakan Tuhan. Itulah hidup yang sukses, yang diperkanan oleh Allah.

Write a comment:

*

Your email address will not be published.