Menurut statistik, di kota New York sekitar satu dekade lalu, ada sekitar 8 juta ekor kucing dan 11 juta ekor anjing. Kini pasti jumlahnya semakin bertambah. Kota New York ibarat sebuah hutan pencakar langit dan penduduknya sangat padat. Tidak ada tanah kosong yang tersisa, dan segalanya serba mahal. Bila ada anjing atau kucing yang mati, tidak boleh dikuburkan di halaman rumah atau dibuang seenaknya. Pihak pemerintah kota atau pihak swasta yang berijin bisa menolong membereskan mayat anjing atau kucing dengan biaya sekitar $75-$100.

Ada seorang ibu yang membuka usaha ini, dan dia memasang di iklan, ”Bila binatang peliharaan Anda meninggal, saya akan datang ke rumah Anda untuk mengurus mayatnya. Anda cukup membayar $25-$50!”. Wow, biaya yang amat murah. Tentunya iklannya mendapat sambutan baik dan bisnisnya maju pesat. Saingannya bertanya-tanya mengapa begitu murah? Apa rahasianya? Setelah diselidiki, ternyata ibu ini pergi ke toko barang bekas (Salvation Army, Trifty Store, atau lainnya), dan membeli koper bekas yang harganya hanya $2-$5. Setiap kali mendapatkan order mengangkut mayat kucing atau anjing, dia ke sana dan membungkus mayat itu, lalu memasukkannya ke dalam koper bekas. Pulangnya dia sengaja naik subway yang banyak maling atau copetnya. Dia meletakkan kopernya dengan baik, dan pura-pura tertidur atau tidak menjaga kopernya. Sudah pasti ada maling yang mencuri koper itu. Lalu, si ibu pura-pura tersadar dan berteriak. ”Hei Stop! Maling, Maling!” Tetapi si maling secepat kilat sudah melompat ke luar subway dan menghilang dari pandangan mata.

Coba bayangkan, ketika si maling membuka koper hasil curiannya. Pastilah dia sangat terkejut bukan? Seringkali kita seperti maling itu. Dalam hidup ini kita berusaha keras untuk menggapai, merebut, dan mengambil, tetapi hasilnya sia-sia. Misalnya: sekolah setinggi mungkin, bekerja mati-matian, berbisnis di sana-sini, berhutang dan berspekulasi dengan nekad, bahkan ada yang korupsi, berdusta, menipu, dan melakukan berbagai kecurangan, dan kejahatan. Semua usaha ini untuk mengejar kebahagiaan, namun akhirnya hanyalah sebuah kehampaan. Raja Salomo yang terkenal pintar, kaya, dan gagah pun mengalami kesia-siaan, ketika dia mengejar kebahagiaan yang semu. Akhirnya dia bertemu Tuhan dan menuliskan, ”Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun–tahun yang kau katakan: ’Tak ada kesenangan bagiku didalamnya’!” (Pengkotbah 12:1). Sungguh, tanpa mengenal Pencipta (Kristus), tidak ada kebahagiaan yang sejati. Sebab itu, berhentilah mengejar! Percaya dan berserahlah kepada Tuhan hari ini juga!

Write a comment:

*

Your email address will not be published.